IAIN SULTAN AMAI GORONTALO
Menejemen Pendidikan dalam al-qur’an
Fauzia Gani
jiafauziagani@gmail.com
ABSTRAK
Al-qur’anul karim sebagai kitab suci kaum muslimin antara lain berfungsi sebagai “hudan” sarat sebagai demgam berbagai petunjuk agar manusia dapat menjadi khalifah yang baik dimuka bumi ini.untuk memperoleh petunjuk tersebut diperlukan adanya pengkajian terhadap al-qur’an itu sendiri, sehingga kaum muslimin bisa mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari pada isi kandungan al-qu;an tersebut yang didalamnya kompleks membahas permasalahan-permsalahan yang sudah terjadi,sedang terjadi, maupun yang belum terjadi. Semua hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, mmaupun keberadaaan ala mini sudah ter,maksud dalam al-qur’an. Termasuk masalah mulai dari asal kejadian manusia, sampai pada aktivitas yang dilakukan pada manusia dalam hal ini tentang menejemenn pendidikan, hal ini sudah tertulis dalam al-qur’an.
Kata kunci: Menejemen Pendidikan Al-Qur’an
PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya, sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Ilahi Rabbi yang telah memberikan Hidayah dan Taufik-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan ARTIKEL yang berjudul “Menejemen Pendidikan Dalam Al-Qur’an” ini walaupun masih banyak kekurangan dalam pembuatan artikel ini. Artikel ini berisikan tentang hal-hal yang mencakup mengenai Menejemen pendidikan di dalam al-qur’an. Dengan tersusunnya artikel ini, saya berharap pembaca dapat memahami artikel ini tentang menejemen pendidikan dalam al-quur’an. Saya juga menyadari bahwa artikel ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun.Sangat saya harapkan demi kesempurnaan penyusunan artikel berikutnya.
PEMBAHASAN
Istilah Menejemen dalam AL-Qur’an
Sebelum membahas istilah menejemen dalam al-qur’an, kita perlu memehami terlebih dulu terminology kata menejemen. Banyak sumber membahas istila ini, seperti yang dikutip Usman Effendi yang di antaranya menyebutkan bahwa menejemen berasal dari bahasa latin manus yang berarti “tangan”. Dalam bahasa Italia maneggiare berarti “mengendalikan”, lalu bahasa Prancis menyebutmenagemenyang berarti “seni melaksanaka dan mengatur”.
Al-Qura’an yang menunjukan makna menejemen dengan menggunakan istiilah Al-Tadrib.
Al-Tadrib
Menejemen dalam bahasa arab sering dibahasakan denganidarah diambil dari kata adartasy sai’ahatau perkataan adarta bihi, didsarkan juga pada kata ad-dauran. Al-Qur’an memuat makna menejemen dengan hanya menggunakan istilah Al-Tadrib .al-tadrib yang merupakan bentuk masdar dari dabbara, yudabbiru, tadbiran, Al-Tadrib berarti pengaturan, pengurusan, perencanaan, dan persiapan. Dalam kamus Al-munawwir, dabbara diartikan sebagai “mengatur,mengurus,memimpin.
Dari hasil penelusuran penulis terhadap Al-Qur’an dan terjemahnya serta menggunakan aplikasi Al-Qur’an Kalam, serta karya Muammad Fu’ad ‘Abdul Baqi, yakni Mu’jam Mufahras Al-Qur’an terdapat 26 lafaz dabbara secara keseluruhan dengan berbagai derivasinya.9Di antara ayat yang menerangkan makna tersebut adalah surah Al-Sajdah ayat 5:
يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُۥٓ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ
Artinya:
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”
Istilah pendidikan dalam Al-Qurr’an
Pendidikanmenurut UU tentang SISDIKNAS No 2 Tahun 2003 bab 1 pasal 1 dinyatakan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, bangsa dan negara. Drs. Hasan basri, M.Ag dan Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si menyatakan dalam buku Ilmu Pendidikan Islam Jilid II bahwa pendidikan adalah pembinaan anak bangsa. Semua warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Sistem pendidikan harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, meningkatkan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan perkembangan zaman, kehidupan lokal maupun nasional bahkan global sehingga perlu dikasanakan dengan pengembangan yang terencana, terarah dan berkesinambungan.
M. Quraish Shihab menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas Perbagai Persoalan Umat bahwa dasar pendidikan Islam adalah tauhid.Karena tauhid bermuara dari AlQur’an, maka sudah seharusnya pendidikan didasarkan pada Al-Qur’an. Setelah dilakukan pelacakan melalui Al-Qur’an dan terjemahnya serta penelusuran ayat menggunakan Mu’jam Al-Fa Al-Qur’an Al-Karim, dapat dipahami bahwa untuk menunjukkan makna pendidikan tidak cukup dengan satu kata, namun ada beberapa kata yang sepadan dengannya, itulah salah satu keistimewaan Al-Qur’an.
M. Quraish Shihab berpendapat bahwa penggunaan kata yudabbiru pada ayat di atas, adalah untuk menjelaskan pemikiran dan pengaturan sedemikian rupa tentang sesuatu yang akan terjadi di kemudiannya. Intinya adalah segala sesuatu harus diperhitungkan dampak dan akibatnya secara matang, sehingga hasil yang diperoleh sesuai dengan yang dikehendaki atau sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Dalam Al-Qur’an, untuk menyatakan makna pendidikan terdapat beberapa term diantaranya Ta’lim dan Tarbiyah, 20 Hal ini relevan dengan istilah yang dikemukakan oleh Dr. Ahmad Munir dalam bukunya yang berjudul Tafsir Tarbawi Mengungkap Pesan Al-Qur’an tentang Pendidikan. Begitu juga dengan pendapat Drs. H. Ahmad Izzan, M. Ag dan Saehudin S.Th.I dalam buku yang berjudul Tafsir pendidikan Studi Ayat-ayat berdimensi Pendidikan.
Di bawah ini istilah pendidikan dalam Al-Qur’an berserta penjelasannya:
a.Ta’lim
Ta’lim secara bahasa diartikan sebagai pengajaran (masdar dari „alama-yu’alimu-ta’liman), secara istilah artinya pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampian pengertian, pengetahuan serta ketrampilan. Abdul Fattah Jalal berpendapat bahwa ta’lim adalah proses penyampaian pengatahuan, pemahaman, pengertian, dan tanggung jawab. Kata ta’lim berasal dari kata dasar „ilm, yang berarti mengetahui sesuatu. Sedangkan Ta’lim berarti meyakini hakekat sesuatu. Orang yang banyak mengetahui sesuatu disebut al‘alamah. Allah SWT disebut al-alim karena Dialah yang Banyak mengetahui sesuatu dan hakekatnya.
Istilah ta’lîm ini memiliki akar historis dan epistemologis yang kuat dalam tradisi khazanah intelektual umat Islam. Dalam kitab Târîh alTarbiyahal-Isla miyah karya Ahmad Syalabi, dikutip oleh Yayuli, menyatakan bahwa, lembaga-lembaga pendidikan masa awal Islam bahkan pra-Islam dinamai dengan lembaga ta’lim dengan sebutan kuttâb. Saat itu terdapat pengembangan intelektual, bakat, adab, dan sebagainya. Artinya, lembaga awal yang muncul di dunia Islam. Syalabi menyebut, kuttab adalah majlis pendidikan dan pengajaran (ta’lim) membaca juga menulis. Ignaz Goldizer pun seperti dikutip Syalabi, menyebutkan, bahwa kuttab ialah lembaga pendidikan Alquran serta dasar-dasar agama Islam. Oleh karenanya, bisa jadi kata ta’lim ialah cikal bakal pendidikan dalam peradaban Islam.
Allah mengajarkan pada Nabi Adam A.S. agar menyebutkan namanama benda, maknanya adalah bahwa Allah menjadikan Nabi Adam mampu mengucapkan dan memberikan sebutan sesuatu seperti halnya yang telah diajarkan kepadanya. 25 Ibn Katsir berpendapat, makna „allama pada ayat tersebut adalah bahwa Allah mengajarkan dan memberikan pengetahuan inderawi atau empiris kepada Nabi Adam AS.26 Ayat lain yang menyatakan istilah ta’lim bermakna pendidikan adalah pada Q.S. Al-Alaq ayat 4 yakni:
بِٱلْقَلَمِ عَلَّمَ ٱلَّذِى
Artinya: “Yang Mengajar (manusia) dengan pena.”
Dalam konteks ayat tersebut, apabila ditarik pada era yang milenial saat ini, pemaknaan ayat oleh Ahmad Mustafa Al-Maraghi di atas relevan dengan islamisasi pengetahuan yang ditawarkan oleh model modernisasi Islam seperti yang dijelaskan Dr. Mukhibat dalam tulisannya yang berjudul Islamisasi Pengetahuan dan Model Pengembangannya pada Madrasah. Ayat ini member inspirasi dalam usaha pegembangkan pendidikan dan memberi motivasi kepada umat Islam untuk lebih maju, progresif dan senantiasa melakukan perbaikan yang signifikan di bidang IPTEK, mengingat adanya persaingan yang ketat di zaman globalisasi.
b.Tarbiyah
Secara umum kata tarbiyah dapat dikembalikan kepada tiga kata kerja yang berbeda. Pertama, kata raba-yarbu yang berarti berkembang nama-yanmu. Kedua rabiya-yarba maknanya nasyaa, tara’ra’a (tumbuh). Ketiga, rabba-yarubbu yang berarti aslahahu, tawalla amrahu, sasaahu, wa qama ‘alaihi, wa ra’aahu yang berarti memperbaiki, mengurus, memimpin, menjaga, dan memeliharanya atau mendidik.
Secara etimologis, kata tarbiyah berasal dari kata raba-yarbu, kemudian lafal ini dirubah ke dalam tsulatsi mazid. Dalam buku Tafsir Tarbawy, Mengungkap Pesan Al-Qur’an tentang Pendidikan, disebutkan bahwa Al-Baidlawy menyatakan kata al-rabb berasal yang maknanya adalah menyampaikan sesuatu sedikit demi sedikit. Fungsi dari kata arab menyatakan arti pemilik/ penguasa, sebagai Tuhan yang ditaati dan sebagai pengatur. Dalam Al-Qur’an, kata tarbiyah terulang sebanyak 952 kali dengan berbagai derivasinya. di antara ayat yang menjelaskan tentang makna tersebut adalah Q.S Al-Isra’ ayat 24 yakni:
صَغِيرً رَبَّيَانِى اكَمَاحَمْهُمَا ٱرْ رَّبِّ وَقُل ٱلرَّحْمَةِ مِنَ ٱلذُّلِّ جَنَاحَ لَهُمَا وَٱخْفِضْ
Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhan-ku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”
Makna yang terkandung dalam ayat di atas adalah teladan amal kebajikan yang orang tua lakukan untuk anaknya, oleh karenanya Allah mewajibkan anak untuk selalu berbakti kepada keduanya dengan cara yang paling baik. Perbuatan baik terhadap orang tua diantaranya dengan mentaatinya, tidak bertutur kasar dan selalu berkata baik, dan bersikap ramah.
Berikut hadis tentang pendidikan dalam Al-Qu’an:
Dari Abu Hurairah r.a, Ia berkata sesungguhnya Rasululllah SAW bersabda : “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan-jalan tiba-tiba ia merasa sangat haus sekali kemudian ia menemukan sumur lalu ia masuk kedalamnya dan minum, kemudian ia keluar (dari sumur). Tiba-tiba datang seekor anjing menjulur-julurkan lidahnya ia menjilati tanah karena sangat haus, lelaki itu berkata : anjing itu sangat haus sebagaimana aku, kemudian masuk kesumur lagi dan ia penuhi sepatunya (dengan air), kemudian ia (haus lagi) sambil menggigit sepatunya dan ia beri minum anjing itu kemudian Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni, sahabat bertanya wahai Rasulullah: adakah kita mendapat pahala karena kita menolong hewan ? Nabi SAW menjawab : disetiap yang mempunyai limpa basah ada pahalanya”. (HR.Imam Bukhori).
Hadist diatas menjelaskan bahwa pendidikan dengan metode cerita dapat menumbuhkan kesan yang mendalam pada anak didik, sehingga dapat memotivasi anak didik untuk berbuat yang baik dan menjauhi hal yang buruk. Bahkan kaedah ini merupakan metode yang menarik yang mana sering dilakukan oleh Rasulullah dalam menyamapaikan ajaran islam. Teknik ini menjadikan penyampaian dari Rasulullah menarik sehingga menimbulkan minat dikalangan para sahabatnya.
Teknik bercerita ini adalah salah satu teknik yang baik untuk menerapkan aspek pembangunan insan karena didalamnya mencakup seluruh metodologi pendidikan yaitu pendidikan mental, akal, jasmani serta unsur-unsur yang ada dalam jiwa seseorang, pendidikan itu melalui teladan dan nasehat. Bukti terbaik dari metode ini adalah bagaimana setengah dari isi kandungan Al-Qur’an adalah tentang cerita atau kisah dalam penyamapaian ajarannya.
Pesan-pesan dalam Al-Qur’an mengenai pendidikan:
1) Kisah Nabi Adam AS memulai peradaban dengan ilmu langsung dari Allah SWT untuk membangun peradaban manusia bahkan melebihi kemampuan manusia, ta’lim
2) Peradaban emas islam banyaknya ilmuan islam yang mencerahkan peradaban dunia.
3) Kisah perang Ahdzab yaitu perang strategi parit, keterampilan salman Al-farisi dengan membuat khandaq. Lagi-lagi Al-Qur’an berbicara tentang keterampilan dan kecerdasan berpikir.
4) Kisah Nabi Muhammad SAW yang memerangi jahiliya.
5) Penaklukan konstantinopel Muhammad Al-fatih, panglima yang menaklukan musuh dengan ilmu dan teknilogi.
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan hal penting bagi manusia dan khususnya dunia pendidikan yang tidak dinafikan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menggunakan sebuah term, yaitu Al-tadbir untuk megungkapkan makna manajemen. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana guna mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran supaya peserta didik secara aktif mengembangkan potensidirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, bangsa serta negara. Al-Qur’an mengemukakan makna pendidikan menggunakan beberapa term, yaitu 1.) Al-ta’lim 2.) Tarbiyah.
Istilah ta’lim menunjukkan pendidikan dengan maksud pemberitahuan dan penjelasan meliputi isi dan maksudnya secara berulang-ulang/ kontinu, bertahap dengan adab-adab tertentu, bersahabat, berkasih sayang, dan dengan cara yang mudah dipahami sehingga muta’alimin dapat memahaminya dengan jelas sehingga lahirlah amal shaleh.
Sedangkan dari istilah tarbiyah (pendidikan) dipahami sebagai suatu kegiatan yang meliputi perhatian, dan pengarahan perilaku individu, membantu tubuh, sosial, kejiwaan, akhlak dan lainnya untuk menjadikan sedikit demi sedikit menuju kesempurnaan insani.
DAFTAR PUSTAKA
http://etheses.iainponorogo.ac.id/6065/1/TESIS%20212217046%20-SITI%20KHOIRUL%20MUNAWAROH.pdf
http://realitaspendidikan.blogspot.com/2017/11/hadis-tarbawi-manajemen-pendidikan-islam.html
Komentar
Posting Komentar